Kidu Dira: DIUJI

ALOHA! 
su lama tak update di blogku. Kuharap kalian masih setia buat nungguin ceritaku. stay tuned yea :)


Btw, apa kabar kalian semua? gakerasa udah PPKM aja yak? apalagi udah diperpanjang, gatau sampai kapan. Anyway, banyak masyarakat diluar sana yang merasa tercekik terhadap kebijakan ini. Pemerintah si-pembuat kebijakan, pedagang, umkm, dan lainnya si-korban terdampak, tapi malah aku yang stres karna makin hari makin miris aja gitu sama kebijakan pemerintah yang mana dianggap sangat kurang tepat bagi masyarakat luas.. huhu..... 

eh tapi kali ini aku bukan mau mengkritik pemerintah -karna takut diserang buzzer dan ngilang tiba-tiba wkwkk- melainkan karna mau berbagi kisah, dengan judul "DIUJI". 
Eh bentar-bentar siapa yang akan diuji? dan apa yang mau diuji?? ujian yak? eh atau diuji proposal skripsi??

BIG NO!
Diuji kali ini merupakan salah satu kisah pengalamanku, yang tak terlupakan olehku, hehe.. 
Silahkan nilai sendiri, ambil baiknya, buang buruknya. I hope you enjoy it brader :)
selamat membaca.

------------
*Pagi hari didalam kamar*. 
Dengan suasana hening dan hanya detik jam dinding yang terdengar, seorang wanita datang dari dapur menuju sebuah bilik kamar, lalu membuka gagang pintu dengan powernya dan berdiri didepan gorden yang terurai menempel diatas pintu. 

"DIVA!!! Sudah jam 7 masih belum bangun jua kah?? Handak jam berapa tulak sekolah????" teriak wanita kepada gadis belia sambil memegang sutil aluminium yang masih panas. 

Gadis berumur 9 tahun itu sontak terkejut dan terbangun dari mimpinya. Matanya terbelalak, lalu ia menatap jam sambil mengucek-ngucek matanya. Dengan wajah merengut dan nada setengah menangis, ia menjawab "Kenapa kada dibanguni dari tadi?!".
"Eh, mama sudah banguni ikam dari jam 5, ikam mama garak maka menyahuti hiih hiih ja. Bistu duduk, mama kira ikam langsung mandi segala macam, sekalinya masih disini kah?!!!" jawab wanita yang masih memegang sutil tersebut. 

"Jaka diitihi lagi pang ma, dibanguni lagi" bela gadis tersebut. 
"Mama sekali ja menggarak, kada meitihi lagi, mama tinggal mandi, bemasak, ini itu. Biasanya jua bangun sorangan, kenapa pas ini malah kada?!"

"Iya-iya" jawab Diva sambil mengangguk-angguk. 

"Tuh kamar mandi kosong, Didit lawan Dini sudah mandi, dilakasi mandinya, mumpung pompa airnya masih nyala biar hemat listrik. Setumat lagi mama antar, sekira beimbai lawan kaka-kaka ikam tulak sekolah". jawab wanita dengan cepat.

Dengan cepat ia rapikan bantal, guling, selimut, lalu berlari mencari handuk dan menuju kamar mandi..

*Dikamar mandi, dengan suara pompa air yang sangat nyaring, gadis kecil bernama Diva itu bergumam dalam hati sambil menggosok giginya.*
"Huh berangkat sekolah bareng mas Didit dan mba Dini ngga ya? Kalo berangkat bareng bakal ga terlambat sih, tapi harus rela duduk himpit-himpitan dalam satu motor ber-4, aku duduk paling depan, mama dibelakangku, dan dua kakakku lagi duduk dibelakang mama.
Sedangkan kalo aku ga berangkat bareng, bakal naik sepeda sendirian, duduk ga bakal himpit-himpitan, tapi kemungkinan sedikit terlambat. Konsekuensi keterlambatan mungkin seperti kejadian 2 tahun lalu, gerbang sekolah ditutup dan dikunci mulai setengah delapan, lalu akan dibuka pada pukul delapan.
Aku cuma bisa berdiri dibelakang gerbang sambil melihat teman-temanku yang sedang khidmat melaksanakan upacara. Jika pembina upacara ga panjang lebar ceramah, maka akan bubar pukul 08.00, tapi semisal ceramahnya lama, khususnya seperti bapak kepala sekolah, kemungkinan besar akan bubar pukul 08.30. 
Hmmm.. Complicated!!" ucapnya. 

Menggosok gigi sambil memikirkan "berangkat bareng kakak atau tidak" ini rupanya menguras waktu mandi gadis ini, sehingga semakin lama lagi ia berada di kamar mandi. Bukannya langsung mandi, ia justru melanjutkan untuk memikirkan hal ini dikepalanya. 

"Jadi, berangkat naik motor (bareng kakak) atau naik sepeda aja ya?" Kalimat ini terus menghantui kepalanya, hingga teringat pada pengalamannya 2 tahun yang lalu. 

-------
*Kembali mengingat kejadian 2 tahun silam*. 
Pukul 08.00 adalah waktu dimana kegiatan belajar mengajar dimulai, semua siswa/i sudah menduduki kursinya masing-masing begitu pula dengan guru, sesaat setelah berbaris didepan kelas dan berdoa sebelum memulai pelajaran. Namun ia baru tiba dikelas pukul 8. Disorak-sorak sama teman-temannya karena terlambat, berdoa sendiri diluar kelas. It's OK sih, karena gadis ini tipe orang yang tak mempermasalahkan hal ini. Terlambat atau tidak ya ga masalah pikirnya, karena sama-sama punya tujuan yang sama ke sekolah, yakni belajar
------


15 menit telah berlalu, kemudian ia keluar kamar mandi mendahulukan kaki kanan disusul kaki kiri. Ia tengok kanan-kiri, suasana terlihat sepi, perasaannya tidak enak. Namun perasaan itu ia alihkan dengan melaksanakan salah satu ibadah lima waktu, dua rakaat yang ia kerjakan dalam waktu 5 menit. Setelah itu, dengan cepat ia menengok ke teras melalui jendela untuk memastikan apakah ibunya sudah berangkat mengantar kaka sekolah atau belum. 

Ia buka gorden biru itu perlahan, dan ternyata motor merah kesayangan orangtua sudah tak lagi berada didepan teras, perasaan tidak enak sebelumnya seakan memberi jawaban bahwa dugaannya benar. 

"Hmmm nampaknya mama sudah berangkat, ini berarti aku berangkat ke sekolah menggunakan sepeda" ucapnya.

Bergegas ia menggunakan seragam sekolah beserta atribut dengan rapi, mulai dari ikat pinggang, kaus kaki, dan topi, lalu meneguk segelas air, dan melewatkan sarapannya. Saat ia duduk dikursi teras hendak mengenakan sepatu, ibunya datang dengan motor merahnya. Gadis ini mendahului ibunya untuk membuka percakapan. 

Diva: "Ma, jakanya beimbai tunggui ulun tulaknya" ucap Diva.
Mama: "Ditunggu-tunggu, tapi masih belum siap jua, mandi aja lama, belum lagi pake seragam, dll. Kasian kakakmu, sekolahnya jauh, harus naik angkot (angkutan kota) dulu agar tiba disekolahnya. Sedangkan Diva, jarak sekolahmu dari rumah tidak sejauh kakak, jadi naik sepeda bisa aja kan? Toh kerjaan mama dirumah juga belum selesai" jawab ibunya dengan cepat sambil melepas helm dan mencantolnya di salah satu spion kendaraan roda dua berwarna merah tersebut.
Diva: "Karena mas dan mba sudah dianter, berarti dianter aja gin ulun lah ma, soalnya ntar terlambat kalo naik sepeda. 15-20 menit kira-kira baru nyampe di sekolah" bujuk Diva agar ibunya mau mengantarnya ke sekolah.
Mama: "OK, Mama anter. Tapi, tunggu mama selesai beberes dulu gimana? apa ga terlambat kah?"
Diva: "Kalo gitu naik sepeda aja gin dah." jawab Diva dengan wajah cemberut.
Mama: "Ikam sudah makanlah Div?
Diva: "hehe, belum. Kena mun makan magin lambat."
Mama: "Kenapa kada makan dulu?!! Makan sana, habis makan baru berangkat!." jawab mama dengan tegas.
Diva: "Tapi kena terlambat maaa" jawab Diva dengan memelas.
Mama: "Pokoknya kada boleh tulak sebelum makan!".

Lagi-lagi Diva hanya bisa menjawab iya dan menuruti apa kata ibunya. Lalu Diva mengambil piring, nasi, dan lauk yang ada di meja makan, diakhiri dengan segelas air putih hingga membuatnya cukup kenyang. 5 menit telah berlalu setelah itu ia pun berangkat sekolah. Tak lupa ia berpamitan pada ibunya yang baru saja memandikan anak bungsu (adik Diva) yang masih kecil itu. 

-------------
Diva pun mulai menggowes sepeda biru kesayangannya, yang ia beli dari hasil jerih payah menabung hampir setahun lamanya. Lengkap dengan bunyi bel disamping gagang kiri dan kunci sepeda layaknya kendaraan roda dua yang bisa dikunci setang. 
Sesampainya diluar gang, tepatnya didekat bundaran masjid, ia berhenti sejenak.
"Eh kira-kira ada buku yang ketinggalan nggak ya? Ku cek dulu ah." ucap Diva sambil membuka retsleting tas. Alhamdulillah, tak ada yang ketinggalan. Ia pun melanjutkan mengayuh sepedanya. 

Tibalah Diva di perempatan trikora, dimana ia harus menyeberang terlebih dahulu, karena memang itulah jalan menuju tempat ia mengenyam pendidikan sekolah dasar. Tengok kanan-kiri lalu ia menyeberang. Ketika telah menyeberang, ada hal aneh yang ia rasakan.

"Kok sepedanya makin beratlah? Ada apa ya ini? Perasaan pas dari rumah tadi ringan aja kok, kenapa malah berat begini? Toh tas kan kutaruh dikeranjang depan. Kok beratnya dibelakang??"

Walaupun demikian, ia masih saja memaksakan untuk mengayuh sepedanya. Ia kayuh dengan sekuat tenaga, tapi makin lama makin berat seakan-akan ada yang menghambat Diva untuk berangkat sekolah. Dengan nada setengah kecewa, ia berkata: "Ayo dong sepeda, bersahabat sebentar saja seperti cuaca pagi ini, sebentar lagi aku terlambat, aku tak ingin kejadian 2 tahun lalu terulang lagi". 

Tak sampai 5 menit dari tempat ia menyeberang, ia pun memutuskan untuk berhenti, dan mengecek apa yang terjadi pada sepedanya. 

"Yaaah, ternyata kempes, pantesan kok kaya makin berat mengayuh sepedanya. Bengkel terdekat dimana ya? Hmmm..., oiya sebelum menyeberang tadi sepertinya ada bengkel yang buka, ya sudahlah ke bengkel dulu. Eh tapi apa nggak makin terlambat kah yoo huhu... Jakanya tadi minta anter mama aja iiiii" gumam Diva dalam hati sambil menekan-nekan ban belakang sepedanya demi memastikan apakah ban itu benar-benar perlu untuk ditambah angin. 

Ia pun memutar balik sepeda dan bergegas menuju bengkel yang sempat ia lihat sesaat sebelum ia menyeberang. Ketika hendak menyeberang lagi, sepeda lagi-lagi makin terasa berat namun ia paksakan untuk tiba di bengkel tersebut. 

Tibalah ditempat bengkel, dan ada seorang lelaki yang lengkap dengan perkakasnya. 
"Paman, bisa isi angin? Ban sepeda saya sepertinya kempes" tanya Diva.
"Oh iya bisa, bentar ya." jawab lelaki yang Diva panggil dengan sebutan Paman tersebut. 

Ucapan 'sebentar' dari mulut paman itu rupanya, tak sesuai dengan realita. Beliau tak kunjung keluar dari dalam rumahnya, entah apa yang dilakukan paman tersebut, Diva mulai sedikit kesal dan marah. 
"Katanya sebentar, tapi kenapa lawas banar pamannya ni meapalah??! Sekarang sudah jam 07.35 sempet kada yo ke sekolah?" gerutu Diva dalam hati sambil melihat jam yang ia kenakan ditangan kirinya.

Beberapa menit kemudian, datanglah paman tadi lalu mulai mengisi angin pada ban sepeda gadis belia itu. "Hmm positif thinking Div, siapa tau pamannya tadi sarapan dulu sebelum memulai pekerjaannya. Sama kaya kamu sendiri, harus sarapan dulu sebelum berangkat sekolah. Toh siapa tahu paman itu diomelin istrinya atau ibunya karena belum sarapan saat hendak memulai pekerjaannya itu wkwk." hibur Diva pada suasana hatinya yang kesal. 

Kemudian diceletuk oleh pikirannya yang lain agar mampu menenangkan hatinya. "Dibawa tenang dan sabar aja ya Divvv, kalo sabar ntar bakal awet muda ckckkck" kalimat itulah yang sering muncul dikepalanya ketika gadis itu berada dalam suasana hati mulai kecewa, menyerah, dan hampir menangis. 

"Wah, ini lain kempes lagi ding, tapi bocor. Bukan ban belakang aja yang bocor, tapi yang didepannya juga bocor. Paman gaada cadangan ban, kecuali mun handak sore hanyar ada." kata Paman itu sambil menunjukkan bagian ban yang bocor kepada Diva.
"Ooooh bocorkah? kena gin pamanlah ulun bulik dulu betakun ke kuitan, mun jadi kesini kena ulun kesini lagi". jawab Diva dengan nada santai yang sebenarnya ia sangat khawatir dan sedang memikirkan cara agar ia tidak terlambat berangkat sekolah.

Lagi-lagi Diva harus memutar balik menuju rumah, dan menunda untuk berangkat sekolah. Jalan terakhir yang ia pikirkan, minta diantar mama

Sepeda itu ia kayuh perlahan, karena cukup lelah secara fisik karena ia kayuh dengan sekuat tenaga sebelum akhirnya tahu bahwa ban sepedanya bocor, apalagi depan-belakang. Juga lelah secara batin karena diomelin bangun kesiangan, diomelin ga sarapan, ditinggal duluan berangkat bareng kakak, naik sepeda sendirian, kebocoran ban, dan besar kemungkinan akan TERLAMBAT.

"Ya Alloh, kenapa hari ini Diva apes banget, apa ini memang salah satu skenario-Mu supaya diri ini terlambat sekolah dan kejadian 2tahun lalu terulang kembali? Maafkan hamba jika banyak mengeluh, ampuni diri ini Ya Alloh, semoga ada pelajaran yang dapat Diva ambil, dan semoga hari esok lebih baik dari hari ini" perlahan setetes-dua tetes air jatuh dari mata bulatnya. 

Pagi hari yang cerah, ternyata belum tentu nasib kita ikutan cerah, terlebih lagi suasana hati. Disepanjang perjalanan, gadis itu berusaha untuk merenung dan mengingat apa yang telah terjadi sejak bangun tidur. Kemudian saat berada di bundaran masjid depan komplek, ia pun terhenti.

"Loh ada dompet jatuh. Punya siapa ya ini (sambil menengok kanan dan kiri). Disini sepi gaada orang, berarti dompetnya jatuh oleh orang yang menggunakan transportasi, entah itu motor roda dua atau roda empat. Mustahil jika pejalan kaki menjatuhkan dompetnya lalu tidak menyadarinya. Lalu itu punya siapa ya? Ambil nggak ya? Tapi kalo diambil, toh ikam gabakalan tahu juga Div itu punya siapa, mending ikam letakkan disitu aja." tanya gadis itu dengan keheranan melihat dompet tergeletak di tempat umum yang sunyi, karena pasalnya memang tak ada seorang pun yang melintas sejak pertama ia melewati bundaran masjid itu saat sebelum menyeberang perempatan trikora dan sebelum mengetahui bahwa ban sepedanya telah bocor. 

"Oiya biasanya kan didalam dompet ada tanda pengenal. Entah itu KTP, SIM, atau apapun itu yang mencantumkan nama dan alamat pemilik dompet itu." Tanpa pikir panjang, ia pun langsung mengambil dompet hitam itu dan mulai memeriksa identitas pemilik dompet itu. 

NIHIL!! 
Tak ada KTP, apalagi SIM. Dompet itu kosong, bahkan selembar uang pun tak ada. Lalu ia mulai keheranan, apakah dompet kosong ini memang sengaja di abaikan ditengah jalan? atau bahkan memang tak ada seorang pun yang ingin mengambilnya karena tak ada identitas nama dan alamat untuk mengembalikan dompet ini, apalagi selembar uang pun tak ada, bahkan diibaratkan setan pun tak nafsu melirik dan mengambik dompet ini???

Ia lihat baik-baik dompet itu, ia sentuh dengan jari-jemarinya dan mulai merasakan tekstur dompet secara perlahan. Dompet berwarna hitam mengkilap dengan gambar cat devil girl ini ternyata baru, bahkan diperkirakan tidak sampai 3-6 bulan, hal ini ia ketahui karena aroma dompet tercium semerbak dalam hidungnya. 
Hingga kejadian tidak terduga pun muncul. 

"Ya Alloh, ini dompet Diva, Masya Alloh, Alhamdulillah, hanyar aja beli dompet ini 2 hari yang lalu. Nabungnya berbulan-bulan. Hampir hilangnya ga nyampe sebulan. Mun hilang disariki mama banar ai huhu. Alhamdulillah Ya Alloh" ucap Diva dengan kegirangan dan menangis bahwa dompet yang ia temukan itu adalah dompetnya sendiri. Seakan-akan kejadian kecewa dan kesedihan sebelumnya terhapuskan oleh ditemukannya dompet itu. 

Gadis belia itu pun langsung membuka retsleting tasnya dan memasukkan dompet itu kedalamnya. Lalu ia menuju ke rumahnya bukan dengan suasana hati sedih takut terlambat, melainkan bahagia karena telah menemukan dompetnya yang jatuh secara tidak sengaja. Rupanya dompet itu bisa terjatuh dari tasnya saat ia hendak mengecek buku-bukunya apakah ada yang tertinggal atau tidak. 

Sesampainya dirumah ia langsung mengetuk pintu lalu dibukakan oleh seorang wanita yang bersiap-siap hendak pergi ke suatu tempat. 

"Loh kenapa pulang? Ada yang ketinggalan kah?" tanya wanita itu kepada Diva.

Dengan tergopoh-gopoh ia menceritakan kejadian yang ia alami, namun tidak semuanya. Ia tidak bercerita dibagian ia menangis, hampir putus asa, dan kecewa. Melainkan ia filter secara improvisasi. 
"Tadi pas dijalan, bannya bocor. Depan-belakang pula" jawab Diva dengan ringkas, karena ia tahu apabila ia ceritakan dari awal, mungkin akan memakan waktu yang sangat lama. Terlebih lagi melihat ibunya yang hendak siap-siap pergi, bukan untuk siap-siap mendengarkan kejadian yang Diva alami. 

"Ya Alloh semoga mama paham" ucapnya dalam hati kecilnya yang ingin minta diantar oleh ibunya. 

"Yaudah kalo gitu mama antar nah, kebetulan mama juga mau ke pasar yang didekat sekolah kam, Va" ucap wanita itu yang sering dipanggil 'Mama' oleh gadis itu. 

"Yeeaay, ujung-ujungnya diantar mama jua kalo nee" timpal Diva kepada ibunya. 
Kemudian ibunya menjawab "Iya, tapi kan situasinya beda, tadi minta antar pas masih belum tahu ban sepedanya bocor atau engga, pas sekarang sudah tahu"


*Sesampainya didepan sekolah*. 
"Lakasi masuk kelas, kena terlambat" ibunya memberi saran. 
Dan anaknya menjawab "iya mah"
Kemudian berpamitan dan langsung berjalan menuju kelas 4A yang berada dilantai 2.

Dilihatnya keadaan sekitar sekolah, nampak sepi. Namun ia sedikit merasa heran pada gerbang sekolah yang biasanya akan ditutup sejak pukul 08.30-08.00 WITA, lengkap dengan gembok dan rantai besi.

"Perasaan belum jam delapan tapi gerbangnya ko ga ditutup yak? Apa paman penutup gerbang lagi sakit trus gaada yang mau nutup? atau kelupaan nutup? atau cuma kebetulan ga ditutup? atau memang ini adalah hari keberuntunganku?"

Ia lewati beberapa kelas, namun tak dapat ia lihat karena pintu yang ditutup rapat. Ingin mengintip melalui jendela, namun tingginya jendela tak mampu ia capai. 

Sesampainya didepan kelas, Diva memegang pintu kelasnya yang tertutup rapat, dengan rasa khawatir ia buka pintu tersebut dengan perlahan, dan ternyata ada beberapa temannya yang sedang duduk lesehan mengobrol didepan papan tulis lalu menegurnya. "Cieee Diva terlambat hahaha" kata temannya sambil menertawakannya dan mulai menggoda gadis itu. Kemudian dipancing oleh temannya yang lain "Eh tumben nih Diva terlambat, kenapa tuh?"

Diva yang awalnya khawatir mendapat omelan guru karena terlambat, berubah menjadi rasa tenang dan senang karena tak ada guru didalam kelas itu. Lalu Diva menjawab temannya "Tadi pas ditengah jalan menuju sekolah, ban sepedaku bocor. Depan dan belakang. Terus putar balik menuju rumah, dan minta anter mama, hehe."

"Ooaaalaaahh" ucap teman-temannya berbarengan menyimak cerita Diva dengan seksama. 

"Aku kalo jadi kamu Div, bakal kulanjutin ke sekolah, biarin aja ban depan-belakang bocor, biar ga terlambat" timpal temannya lagi. 

"Nanti kalo tetap kulanjutin dan kupaksain ke sekolah dengan keadaan ban sepeda bocor depan belakang, pas pulang sekolah bakal capek lagi woi. Lagipula tadi sudah ke tempat bengkel, tapi pengganti bannya belum ada kata pamannya, adanya sore. Toh kalo ada, uangku juga belum cukup hehe. Biar ntar sama mama aja gitu ke bengkelnya buat ganti ban, soalnya bocornya lumayan banyak, kalo ditambal pun, ya bakal susah juga gitu. Mending sekalian diganti bannya"  -padahal supaya ibunya yang menebus ban baru sepeda gadis itu- jawab Diva. 

Lagi-lagi temannya membalas "Oalaahh" dengan tambahan "Ya juga sih".

Lalu salah seorang temannya berkata "Guru-guru lagi rapat Div, tapi kita gaada tugas, cuma disuruh baca buku masing-masing aja dikelas dan gaboleh keluar kelas, tapi pintunya ditutup aja biar kita ga keliatan dan ketahuan ribut hehe."

Mengikuti ucapan temannya sebelumnya, Diva menjawabnya dengan ucapan "Oalaah".

n TAMAT.

------------
Dude, can we called that story with "Happy Ending" or "Happily Ever After" ???
Apakah karma itu ada, karma baik maupun buruk? Apakah dengan kita memikirkan sesuatu yang positif dikepala kita, maka akan menghasilkan yang positif pula? even sekalipun situasi yang kita alami sedang tidak baik-baik saja? 

Ya begitulah kehidupan. 
Kadang manis kadang pahit, bahkan kita gamau merasakannya, tapi kita harus tetap menjalaninya dan menikmatinya sepahit apapun itu. Mendengar kalimat ini jadi teringat sebuah buku yang berjudul "Hidup ini pahit, dan kita dipaksa untuk menikmatinya" oleh Puthut Ea. Eh bukan 'pahit' sih, tapi cari tahu sendiri aja lah ya wkwk.
Toh dibalik itu semua, bakal ada hikmah dan pesan terselubung yang dapat kita ambil dan pelajari. 

Sama seperti kondisi yang kita alami saat ini. Yap. Pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai. Banyak dampak positif yang tercipta, banyak pula dampak negatif yang membuat derita.
Ada yang dulunya merantau dengan kolega, sekarang kembali ke rumah bersama keluarga.
Ada yang dulunya suka berjam-jam ngobrol di cafe, sekarang harus melalui hape (HP)
Ada yang dulunya maksimalis, sekarang minimalis.
Ada yang dulunya pesimis, sekarang optimis.
Ada yang dulunya............., sekarang............ .

Percayalah, selain dari usaha kita, cerita itu terukir karena bagian dari skenario Sang Pencipta, yang kemudian menjadikan hidup kita lebih berwarna, bahkan unik (jarang terjadi pada setiap orang, karena setiap orang punya cerita. Lain orang, lain pula ceritanya). Dan nantinya kejadian apa yang kita alami hari ini, bisa menjadi kisah yang dapat kita ceritakan kembali kepada anak, cucu, maupun generasi selanjutnya. Entah dongeng sebelum tidur, maupun dongeng sebelum berpikir negatif. 

Semoga ada pelajaran yang dapat kalian petik, toh kalo gaada juga gaperlu dipetik, aku tidak memaksa. Karena memaksa dan dipaksa itu tidak baik,  *jika konteksnya buruk. Hehehe. 

Sekian, terimakasih. 

Komentar