Kidu Dira: TERINJAK

Welcome to Kidu Dira (part 1) atau Kisah Hidup Diva Ramadani (bagian pertama). 

Terimakasih telah menyempatkan waktu kalian untuk membaca sedikit kisah hidupku. Semoga kalian bisa terhibur dan bermanfaat dalam mengisi kegabutan kalian dimanapun kalian berada. HEHE. 


............... 
Dira. panggil saja namaku begitu. 
Aku terlahir sebagai anak bungsu, sebelum tiga adikku lahir. 
Aku punya dua kakak.
Yang pertama Dito Panji S. (laki-laki) dan kakak kedua Dini L. (perempuan). Dito kelahiran '94 sedangkan Dini '96 dan tiga tahun setelah kelahiran Dini, barulah aku muncul. 

 Ya, kami bertiga memiliki awalan huruf yang sama pada nama kami, "D". Kata abah dan mamah tujuannya untuk mudah diingat dan mudah dipanggil. 
Tapi nyatanya, orangtua kami sering tertukar memanggil kami. Sehingga tak jarang ketika abah atau mamah memanggilku justru aku sama sekali tidak menoleh, padahal aku tau bahwa beliau sedang memanggil ke arahku wkwk, tapi setelah itu aku membetulkan, "ini Dira mah, bukan Dito maupun Dini, mamah perlu bantuan Dito atau Dini? atau ulun (aku)?" yang saat itu memang akulah yang jaraknya dekat dengan abah/mamah. "Ya, maksud mamah mau manggil kamu tapi malah nyebut nama kakak-kakakmu, maaf ya" kata mama. *dalam hati nyengir sendiri sambil bilang tuh kan, lagi-lagi mamah salah sebut wkwk* kataku dalam hati. 

----------
Teringat suatu kejadian, seminggu setelah aku lahir kala itu abah dan mama serta anak pertamanya (Dito) sedang melaksanakan sholat maghrib. Sedangkan Dini yang masih berusia 3 tahun diberi amanah untuk menjagaku agar tak didekati nyamuk. 
Mama memberi amanah itu karena Dini tidak mau ikut sholat dan lebih memilih menjaga diriku sebagai salah satu alasannya ia tidak ikut sholat berjamaah. Mereka bertiga pun melaksanakan sholat maghrib tanpa Dini.

Belum juga rakaat terakhir, mati listrik terjadi. Semua gelap, ruang tamu, dapur, kamar mandi, tempat sholat, tanpa terkecuali. Termasuk ruangan yang saat itu hanya aku dan Dini seorang. Hmmm.. anak 3 tahun bisa apa ketika ditinggal berdua bersama adiknya? Apalagi ketika mati listrik. Hmmm

Bisa ditebak? Laiknya anak kecil pada umumnya, Dini berlarian kesana-kemari sambil menangis dan memanggil-manggil abah mama. Ketika berlari, tak sengaja terdengar suara aneh yang sulit dijelaskan, pada intinya setelah terdengar suara aneh itu, bayi berumur seminggu itu menangis sekencang-kencangnya. Konsentrasi abah pun hampir buyar yang saat itu sedang menjadi imam sholat dikeluargaku. 

Beliau mempercepat gerakan, lalu langsung mendatangi Dini dan Dira disusul mama. Tak tau mengapa Dira menangis kencang disaat mati listrik, menyebabkan kepanikan abah mama berlipat-lipat. Mama langsung menggendongku dengan usaha agar aku tidak menangis lagi, sedangkan abah bertanya kepada Dini, apa yang telah ia perbuat sehingga aku menangis kencang. Anak 3 tahun sulit ditanya, sulit pula untuk memahami bahasa mereka, kemudian malam itu juga abah dan mama membawa aku (Dira) ke rumah sakit terdekat dalam keadaan masih menangis sekuatnya. 

Alhamdulillah saat diperjalanan listrik menyala, abah mama bergegas menemui dokter. 
Melihat kondisiku yang terus-terusan menangis, dokter berinisiatif langsung merontgen (dibaca ronsen) tubuh Dira. Hasilnya keluar, menunjukkan bahwa tulang rusukku bengkok, namun tidak patah. 

Kemungkinan besar adalah akibat dari injakkan kaki kakakku (Dini) yang berlari ketakutan karena mati listrik. Abah mama sangat marah kepada Dini, tapi sia-sia jika memarahi anak seumur itu. Sehingga abah mama lebih memilih diam dan pasrah atas kejadian ini. 

Selepas mengetahui hasil rontgen itu, dokter menyarankan agar melakukan operasi membetulkan tulang rusuk Dira agar kembali ke bentuk semula, namun tergantung kesepakatan abah mama apakah menyetujui usulan dokter itu atau tidak. Mengingat bahwa Dira baru berumur seminggu, hal ini menjadi pertimbangan dan keraguan besar jika abah dan mama mengiyakan dokter itu. 

Namun setelah dipikirkan secara matang, abah mama lebih memilih untuk tidak membetulkan tulang rusukku, yang artinya tidak melanjutkan ke tahapan operasi dari usulan dokter. Sehingga membiarkanku tumbuh besar dengan tulang rusuk yang bengkok. Disisi lain abah dan mama juga khawatir, bahwa tulang rusukku akan menjadi penghambat pertumbuhanku atau mengganggu letak organ dalam tubuhku yang lain. 

Namun Alhamdulillah, hingga saat ini aku tidak merasakan kejanggalan sedikitpun saat tubuhku semakin besar seiring bertambahnya usia. Ya walaupun masih dalam keadaan bengkok. WKWK. ----- Nantikan part selanjutnya ya! semoga tidak bosan :)

Cerita ini kembali diceritakan abah kepada adik-adikku, bahkan kepada keluarga yang lain. Seakan-akan cerita ini seperti warisan yang harus diketahui, dipertahankan, bahkan dilestarikan. 

TERIMA KASIH telah menyempatkan waktu kalian, semoga ada hikmah yang dapat kalian ambil. 
Ini ceritaku, mana ceritamu?

Komentar