Kidu Dira: TRAUMA

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabbarakatuh. 
Selamat Datang kembali temen - temen semua di Kidu Dira (Kisah Hidup Diva Ramadani). Terima kasih telah menyempatkan waktu kalian untuk membaca blog aku. 

Cerita ini bisa dibilang masih lanjutan dari "Kidu Dira: TERINJAK" h3h3..
Selamat Membaca, Menikmati, dan semoga tida bocan (tidak bosan).


----------- 
Entah ditahun 2000 berapa, yang pasti masih belasan, dan aku pun masih duduk dibangku kelas 5 SD. Aku punya kegiatan yang merupakan bagian dari rutinitasku sehari - hari. Kegiatan spiritual untuk meningkatkan kualitas iman, faham, dan akidah, yang hampir semua orang melakukannya (khususnya orang yang beragama Islam), yakni mengaji. Membaca Al-Qur'an, belajar pegon, menghafal dan menyetorkan surah-surah, doa-doa, asmaul husna, dan masih banyak lagi. Yang diajarkan langsung oleh guru ngaji yang telah dipercayakan orang banyak. Kegiatan ini biasanya dimulai pukul 14.30 s.d 15.30 WITA. Dan kelas ini dikenal dengan kelas Cabe Rawit.

Siang itu setelah pulang sekolah, aku berangkat ke masjid Baitul Karim bersama Dimsy, adikku (bukan nama asli). Kami berdua diantar oleh seseorang yang sangat mencintai kami, begitu juga kami yang sangat mencintai beliau, yang telah membesarkan kami dengan tulus sepenuh hati, Mamah.

-----
13.30 aku telah tiba dirumah. Bergegas memarkir sepeda dengan rapi didekat teras, melepas kaus kaki, meletakkan sepatu dirak sepatu, mencuci tangan dan kaki, dan tak lupa pula mengganti baju seragam yang tercium bau keringat yang telah kupakai seharian disekolah. Laiknya dikejar setan, dengan cepat aku langsung mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat zuhur. 

Setelah sholat, biasanya aku menyempatkan diri untuk makan siang. Tapi dihari itu, sebelum berangkat mengaji, entah kenapa aku tidak menyentuh makanan sedikit pun bahkan minum sekalipun, sedangkan adikku masih sempat makan dan minum karena ia pulang sekolah lebih dulu dibanding diriku. 

Aku terburu-buru minta mamah diantar ngaji bersama adikku agar tidak terlambat, karena jika terlambat akan ada sanksi menyebutkan Asmaul Husna dari awal hingga akhir. Bagi yang terlambat dan hapal Asmaul Husna secara keseluruhan mungkin sudah tidak masalah lagi, tapi untuk orang yang baru menghapal 10 nama-nama baik Alloh seperti diriku ini mungkin bisa jadi masalah besar.

Awalnya mamah menolak permintaanku, mengingat dan mengetahui bahwa diriku belum makan dan minum sedikitpun setelah pulang sekolah. Tapi akhirnya mamah meng-iya-kan untuk mengantar kami dengan catatan, setelah mengaji dan ketika tiba dirumah harus langsung makan dan minum. Mungkin mamah khawatir jika aku tidak bisa fokus karena dalam keadaan perut kosong. Tapi takut terlambat adalah alasan utama yang kuperjuangkan sehingga ingin sekali rasanya lebih cepat datang mengaji agar tidak terkena hukuman menyebutkan/ mengucapkan Asmaul Husna dari 1 hingga 99.
-----

Sesampainya di Masjid Baitul Karim, pukul 14.00 WITA, kami telah datang sebagai orang pertama yang kemudian disusul oleh guru ngaji dan teman-teman yang lain. 
"Alhamdulillah kami lolos dari hukuman" tiba-tiba terlintas kalimat itu dalam pikiranku. 

Kulihat ada beberapa temanku, kalo tidak salah ada 3 orang yang terlambat dan harus mengucapkan Asmaul Husna dari 1-99, seharusnya mengaji dimulai pukul 14.30 namun 3orang temanku tadi justru datang setelah beberapa belas menit saat kami sedang mengaji.

Alhamdulillah kegiatan mengaji lancar, bahkan sang guru ngaji menyanjung dan memotivasi anak murid (teman-teman kami yang lain) agar datang tepat waktu dengan mengambil contoh sikap kami berdua (Aku dan Dimsy). 

"Tuh lihat Diva dan Dimsy, walaupun rumahnya jauh dari sini, tapi mereka ga terlambat bahkan sudah hadir sejak jam 2 siang tadi. Kalian yang rumahnya dekat masjid ini, malah sering keteteran dan terlambat. Lain kali jangan diulang ya?! "

Tersenyum dan tersipu malu, namun kutahan wkwk. 

Pukul 15.30 WITA, menunjukkan setengah jam lagi memasuki sholat ashar. Guru kami mengakhiri pengajian dengan nasihat yang diperuntukkan kami semua, "jangan terlambat lagi ya, harus tepat waktu". Mendengar hal itu, entah kenapa aku masih sangat bangga karena tidak terlambat dan tidak terkena hukuman wkwkk. 

Kelas pun bubar, kecuali aku dan Dimsy yang masih menunggu di masjid untuk menanti jemputan mamah. Tak sabar rasanya menceritakan hal ini (datang tepat waktu dan lolos sanksi) ke mamah dan ingin mengisi perut yang kosong serta menghilangkan rasa haus yang telah lama di-harit sejak pulang sekolah tadi. 

Tak lama kemudian mamah datang, dan berpesan: "Mamah ke tempat kawan mama dulu ya, kalian tunggu aja disini, sebentar aja."

Ok. Kami tunggu..tunggu..tunggu..dan tunggu..
Sampai rasa bosan pun datang. Lalu aku berinisiatif untuk pulang ke rumah bersama Dimsy dengan berjalan kaki. Dimsy pun menyetujuinya. Tanpa bilang ke mamah kami pun mulai meninggalkan masjid. Satu hal yang tidak diketahui, mamah berada di tempat kawan yang mana? Hmm.. Kurasa hampir semua rumah disini menjadi kawan mamah, masa iyak mendatangi rumah satu per satu dan bertanya 'ada mamah kami kah? atau apakah mama kami sebelumnya ada berkunjung ke rumah pian?', YAKALI wkwk sehingga kami pun mulai berjalan tanpa mencari tau dimana mama berada.

Beberapa langkah telah kami lalui hingga terlihat pertigaan.
Sampai di pertigaan, kami tengok kiri dan kanan, menunggu untuk tidak ada kendaraan roda dua maupun roda empat yang melintas, kami pun menyeberang dan mulai berjalan lagi dan belok ke kanan.

Berjalan sambil diiringi dengan nyanyi-nyanyian lagu anak-anak yang kuhapal, seolah-olah telah menghilangkan rasa lapar, haus nan dahsyat yang kurasakan saat itu. Dimsy yang sembari hanya terdiam tak banyak bicara, selalu mengikuti dibelakangku dengan langkah kecilnya. 

"Dimsy capekkah? Handak di-hambin kah? Tapi sebentar lagi kita sampai juga kok, yang sabar ya Dimsy. Kalo capek atau mau di-hambin, bilang aja ke emba" kataku. Yang mulai bosan menyanyi dan lebih ingin berbicara bersamanya. 
Dia memang cuek, tapi bukan berarti tak peduli.
Dia memang pemalu, tapi bukan berarti tak berani.
Adikku itu, ya begitulah pokonya. Apa adanya. 

10 menit telah berlalu, rasa pegal di kaki semakin berat. 
Entah mengapa jalan pulang ini begitu terasa panjang, dan semakin jauh. 
Apakah ada hubungannya karena faktor kelaparan dan kehausan? Entahlah. Tapi adikku tidak mengeluh seperti diriku sedari tadi wkwkwk.

"Mba Diva ingat, pokonya kalo kita sampai di perempatan, trus ditengah-tengah itu ada ban yang sengaja disusun rapi ditengah jalan, itu artinya sebentar lagi kita sampai. Dan cobalah lihat didepan kita itu Dimsy (sambil menunjuk ke arah ban didepan pandangan). Alhamdulillah kita sampai juga, berarti cuma beberapa meter aja kita sudah sampai rumah." 
Dimsy hanya melihat kedepan dan terus berjalan tanpa memberikan respon sedikitpun kepadaku.

Tapi-e-tapi.. setelah berjalan beberapa meter, ternyata jalan pulang ke rumah juga belum kelihatan, hanya terlihat aspal sejauh mata memandang. Kami pun berjalan lagi sambil menyemangati diri "Ayo Dimsy, kita pasti sampai ke rumah, paling cuma beberapa meter aja lagi nanti kita belok, dan tibalah kita dirumah." Namun setelah melangkah mulai jauh, jalan menuju rumah juga tak kunjung kami temukan. Entah jalan ini sudah diubah jalurnya, atau kami disesatkan orang halus wkwk, atau apapun itu, aku pun mulai menangis wkwkwkwk.

"Kok jauh banar, kenapa kita kada sampai-sampai yo, sy (Dimsy)? Mba Diva lapar banar, haus pulang, huhuhu. Mana kada membawa botol minum pulang, kayapa iniiii :((( "
Tak berapa lama aku mengeluh, untuk yang kedua kalinya, kami menemukan pula ban tersusun dan tergeletak ditengah jalan. "Eh ada ban lagi, nah berarti kita sebentar lagi sampai, yeaayyyyy (sambil mengusap air mata wkwkwkw)".

Hampir 45 menit telah berlalu, air mata tak dapat lagi dibendung. Hingga pada akhirnya aku menangis wkwk. "Dah yo kita putar balik aja, batis mba Diva sudah kada kuat lagi, ntar kalo kita ketemu orang, kita tanya siapa tau dia tau" *eh

Beberapa menit sebelumnya kami menemukan seseorang, dan langsung aku hampiri orang itu, walau harus menyeberang jalan terlebih dahulu.
"Assalamualaikum pak, numpang tanya. Kalo jalan Komplek ******* itu dimana ya pak? tanyaku pada pria yang tak bisa kutebak umur berapa beliau.

Sebelum pertanyaan itu kulontarkan, kupasang ekspresi ramah, ceria, dan tidak terlihat kelelahan agar beliau tak merasa khawatir pada kami h3h3. "Hmm mohon maaf de, bapak kurang tau komplek itu dimana." Nanti tanya aja ke orang lain de, soalnya bapak belum pernah dengar komplek itu" jawab beliau. "Oalaah, nggeh terimakasih pak" ucapku. Kami pun meninggalkan beliau dan melanjutkan berjalan (sebelum posisi putar balik). 

"Masa komplek itu aja gatau si" dumelku dalam hati wk.
Entah kenapa jalanan itu sepi, gaada orang yang lalu lalang, cuma motor roda dua dan roda empat yang melintas sejak tadi. Tak mungkin jika dipikir-pikir, dua orang beradik menghentikan pengendara roda dua dan roda empat untuk bertanya, 'dimana komplek ********?' 

Jujur, ada rasa takut juga sih ketemu dan ngobrol sama orang yang sama sekali gadikenal dan gaperna ditemui sebelumnya. Tapi ya mau bagaimana lagi, keadaan ini terdesak, gawat darurat. Malu Bertanya Sesat Dijalan, kalo ga nanya ntar malah makin lama ganemuin jalan pulang :( huhu. Sehingga aku memberanikan diri untuk bertanya.

Setelah bertanya pada beliau dan berbalik badan, kami berjalan dan kupasang lagi raut wajah kesal, lapar, sedih, kecewa, putus asa yang bercampur aduk. Akhirnya aku menangis yang takk karuan wkwkwkwkwkwkwkwkwkwwkwkwkwkkwwkwkwkwkkwkwwkwkwkwwkkwkwkwkwkwkwk.
Jarak dari masjid menuju rumah yang biasanya 1 km, entah kenapa saat itu bahkan hampir 2,5 km bahkan lebih. Aku cuman bisa ngedumel, dan Dimsy masih tak ada respon sama sekali. 
Beberapa menit kemudian, ada seorang perempuan menggunakan motornya disusul lelaki yang membawa motor juga dibelakangnya, datang menghampiri kami berdua.

"Kenapa jauhnya sampai kesini, jar mama tunggu aja di masjid, Ya Allah, *h389eavytusgq;9#Hudvs* (kalimat-kalimat mama yang banyak makna wk). Akupun mendengar suara mamah dan melihat mamah yang ternyata menghampiri, semakin kencang tangisku yang kukeluarkan perlahan tanpa suara dengan cara kepala menunduk, agar Dimsy tidak ikut-ikutan wkwk" 

Speechless, gabisa ngomong apa-apa lagi. Akupun langsung menaiki motor yang dibawa mama, dan adikku langsung naik dimotor satunya yang dikendarai oleh kakakku. 
Dikendaraan aku tak bisa berkata apa apa, hanya tangisan sisigaan yang tak kunjung berhenti wk. Sesampainya dirumah, langsung cepat-cepat aku menuju kamar mandi, mandi namun masih berbalut kesedihan, kecewa, putus asa, dan lapar wkwkw. Selanjutnya, aku lanjutkan ibadah shlat ashar dan tak ingin mengungkit atau membahas kejadian yang terjadi. 

Ku anggap hal ini sebagai angin yang lewat, namun pengalaman unik yang tak akan kulupakan. 
Hal ini kemudian menjadi alasan aku untuk tidak berangkat mengaji lagi ditempat itu wkwk *maaf seribu maaf*. 
Mungkin bisa dibilang trauma, tapi bukan trauma ngajinya sih, melainkan jalan pulang seusai mengaji itu loh. WKWKWK.

Ternyata, setelah menyeberang dari pertigaan yang seharusnya belok kiri di trikora, aku malah lebih memilih untuk belok kanan. Yang nyatanya, belok kanan adalah salah satu jalan menuju Banjarbaru. Yaiyalah ganyampe-nyampe Div wkwkwk.

Tapi, ini beneran aku gamau ngaji lagi sejak kejadian ini. Tapi sesekali ada paksaan dari orangtua untuk lanjut mengaji lagi  pas SMP dan SMA wkwk. Pas aku duduk dibangku SMA, aku mulai mengaji lagi sama mereka (temen-temen ku yang dulu, walau masih ada sedikit trauma wk). Namun perlu diketahui, kegiatan rutin setiap pagi sebelum memulai pelajaran di SMA yang aku enyam saat itu, siswa/i diwajibkan untuk mengaji 30 menit. Sehingga mau tidak mau aku harus banget bisa lancar mengaji wk. Tapi saat itu aku mengaji masih belum niat dari hati, melainkan karena paksaan dan gengsi jika tidak bisa mengaji dihadapan teman-temanku yang warbyasa lancar dikelas.

Lambat laun aku sadar, dan ngerasa aku diberi pencerahan dan hidayah wkwk. Hingga yang bener-bener dapat hidayah pas mau masuk kuliah, ketemu lagi sama temen-temen ngajiku yang dulu. Yang sama sekali tak kuduga, bahwa mereka sudah bujang-bujang wkwk bahkan ada yang sudah menikah ternyata.
Dan tak sedikit dari mereka masih kuingat betul nama-namanya. 

Pada intinya dari kisahku ini adalah, siapa sih yang gapernah berurusan dengan trauma?
Trauma itu memang wajar dialami setiap orang. Dan tiap orang pasti punya trauma masing-masing diberbagai hal. Dan kita gabisa menertawakan trauma orang lain itu blablabla..blebleble..blobloblo.., terus ngerasa trauma milik sendiri lebih baik daripada trauma-nya orang lain.
OH TIDAK BISA SEPERTI ITU :)

Walaupun setiap orang punya cerita trauma-nya masing-masing, sebaiknya trauma jangan dipelihara terus-menerus yaa..
Kita harus bangkit dan lawan rasa trauma itu dengan memikirkan bagaimana cara menyembuhkan perasaan trauma itu seperti misalnya memaafkan diri sendiri, membangun kepercayaan diri sendiri, mencintai diri sendiri, dan lain sebagainya.

Dan aku yakin tiap orang punya cara yang beragam, begitu pula denganku wkwk. Harus lebih sering ketemu orang lain, harus lebih terbuka terkait curhat maupun bukan (eitss tapi harus tetep selektif loh yaa dalam memilih temen curhat wkwkw), serta memperbanyak interaksi terhadap pihak terkait yang menjadi objek trauma kita kwkw. Misalnya kita takut kucing, jika kita sering ketemu kucing, trus keluarga kita melihara kucing dan kita pelan-pelan ikut merawatnya dengan baik, maka kemungkinan besar kita akan ikut-ikutan merawat bahkan melihara kucing, sehingga kita mulai lupa terhadap perasaan trauma kita itu loh cui.  

Udah ah sampe disini dulu yaw wkwkk, maaci buat temen-temen yang udah mau baca. 
Semoga kalian juga bisa bangkit dari perasaan trauma pengalaman kelam kalian wkwk,
Selamat buat kalian yang sudah bangkit, tetep semangat.
Sampai Jumpa, nantikan kisahku yang lain yaa.. h3h3

Komentar