Things that we can learn from CHILDREN

 Hi Welcome back! It's me Diva, but you can call me Diva, Dira, Bintang or anything else. Kali ini aku akan bahas tentang sesuatu yang dapat kita pelajari dari anak kecil. Happy reading brother sister :)


" Belajar Memaknai Kehidupan Dari Anak Kecil "

Apa yang terlintas dipikiran lo ketika lo dengar "ANAK KECIL" ?
Bagi lo yang ngga suka anak kecil, mungkin lo bakal nganggep mereka adalah makhluk kecil yang suka ngompol, lari-lari, suka ngumpetin barang, suka merebut barang yang bukan miliknya, suka susah dikasih tau, suka cengeng, suka poop di popok, suka belepotan kalo lagi makan, nyebelin deh pokoknya. 

Tapi bagi lo yang suka sama anak kecil, ya gamasalah si sama poin-poin yang gue sebutin diatas tadi, dan lebih menganggap mereka sebagai makhluk lucu, polos, imut nan gemesin deh pokoknya.

Sebenarnya lu tau ngga sih, dibalik kelebihan maupun kekurangan anak kecil itu tadi ternyata ada hikmah terselubung yang dapat kita ambil dari mereka. 

Penasaran? Stay tuned.

Gue ambil contoh kecil nih ya.
Pernah ngga sih kalian ngeliat anak kecil atau bayi yang dimimi-in emaknya tapi ternyata dia malah menjulurkan lidahnya, seolah-olah dia udah gamau dimimi-in. Ya memang pada dasarnya usia penyapihan (mulai dari baru lahir-2 tahun) belum bisa bicara, bahkan fasih sekalipun, sehingga menjulurkan lidah itu tadi adalah cara dia berkomunikasi ke emaknya yang artinya: "Cukup mak, aku sudah kenyang".
Nah dari sini tu kita belajar bahwa sejak kecil (pas kita jadi anak kecil) kita udah belajar betapa pentingnya hidup tidak berlebihan alias serba berkecukupan.

Contoh lainnya nih, pernah ngga sih kalian ngeliat anak kecil yang ngga mau digendong orang lain kecuali emak-bapaknya ataupun kakek-neneknya doang yang boleh ngegendong dia gitu. Sekalipun dipaksa, mereka justru menangis kuenceng, merengek, seolah-olah berkata: "STOP! Jangan gendong aku! Turunin aku sekarang juga, aku gamau digendong sama orang ini. Aku cuma mau digendong sama orang itu". Nah dari sini kita juga belajar bahwa anak kecil itu tulus. Mereka mengungkapkan ekspresi dan sikapnya sesuai dengan kata hatinya.

Ketika mereka merasa senang dan bahagia, maka sikap yang mereka tunjukkan juga senang dan bahagia. Ketika mereka sedih, mereka akan menunjukkan bahwa hati kecilnya sedang bersedih bahkan sampai air mata mereka berjatuhan.

Semua manusia dewasa ngga bisa langsung dewasa begitu aja tanpa proses menjadi anak kecil. Mulai dari anak kecil lalu menuju proses remaja hingga dewasa. Well, rupanya kita semua pernah menjadi anak kecil. kita pernah cengeng, kita pernah ngompol, kita pernah lari-lari, makan selalu belepotan, dan sebagainya. Dan justru orangtua kita dengan senantiasa sabar selalu mendidik kita, membimbing kita, agar menjadi manusia yang lebih baik dan semua itu bagian dari proses.

Proses belajar. Orangtua belajar memahami diri kita dan kita pun juga belajar mana yang baik, mana yang harusnya kita lakukan dan mana yang seharusnya tidak kita lakukan sesuai arahan dan cara didik orangtua kita, sehingga tahap proses anak kecil tumbuh dan berkembang itu ga melulu kita yang selalu belajar, para orangtua setiap harinya juga belajar. 

Well kembali ke dua hal penting tadi, serba berkecukupan dan tulus. Tapi nih ya, seiring waktu berjalan semakin kita dewasa justru makin jago fake dan sebagian lagi malah serakah, seringkali tampak bahkan menampakkan diri disekitar kita.

Misalnya, ada orang yang selalu happy, tersenyum, gembira, padahal hatinya sedang sedih. Makin dewasa justru makin pinter ya menyembunyikan perasaan (seperti fake smile), padahal ngga ada yang ngajarin sejak kecil. Bilangnya I'm Okay, tapi hatinya Not Okay.

Ada pula orang dewasa yang selalu membeli barang mengikuti keinginannya dan ikut-ikutan trend, biar ngga dicap ketinggalan zaman. Misalnya pas lagi tanggal cantik tuh pasti banyak banget toko online dan offline yang ngadain sale dan diskon besar-besaran. Ketika ditanya kenapa beli itu, jawabannya akan selalu sama: "Mumpung lagi diskon". Sebenarnya sih ga perlu, apakah barang yang kamu beli itu memang sesuai kebutuhanmu atau keinginanmu atau hanya sekedar ikut-ikutan?

Well, selama tidak merugikan diri sendiri dan orang lain sih sah-sah aja, dengan catatan tidak konsumerisme dan tidak berlebihan (hedonisme).

So, kalau ditanya apakah kamu juga menjadi salah satu orang yang suka berburu diskon khususnya saat tanggal cantik, kamu bakal jawab apa?



Cheers, D. R

Komentar